Dinamika Perpustakaan dan Hak Cipta

Posted by Fajar Gumilar Rizqi fauzi on 19.50 with No comments

Berbicara masalah hak cipta atau ©copyright, banyak orang yang belum mengerti betul tentang hak cipta dan resiko apa yang akan dihadapi jika melanggarnya. Sebelum berbicara lebih jauh, sebaiknya lebih baik terlebih dahulu kita mengetahui apa itu hak cipta. Pengertian hak cipta tercantum juga pada Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta yang berbunyi:
“Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk
mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah
suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku”. Apakah hak ekslusif itu??? hak eksklusif disebutkan pada Bagian II Pasal Demi Pasal pada Pasal 2 ayat 1 yakni : Yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya. Dalam pengertian “mengumumkan atau memperbanyak”, termasuk kegiatan menerjemahkan, mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengomunikasikan Ciptaan kepada publik melalui sarana apa pun. Lalu bagaimana dengan kegiatan fotocopy untuk pengadaan koleksi di sebuah perpustakaan??? Bukan kah itu termasuk melanggar hak cipta juga. Seharusnya mereka sudah dipenjara 7 tahun atau denda Rp. 5 miliar.
            Adapun solusinya, perpustakaan harus membatasi kegiatan fotocopy ini sehingga layanan ini tidak melanggar hak cipta. Kalau pun terpaksa memfotocopy, harus didasari dengan alasan-alasan tertentu seperti buku tersebut sudah tidak ada lagi dipasaran atau tidak lagi di cetak oleh penerbit dan ataupun buku-buku asing yang masuk ke Indonesia yang harganya sangat mahal, contohnya buku DDC yang harganya sangat mahal, maka perpustakaan membeli yang asli kemudian boleh di perbanyak dengan di fotocopy, akan tetapi dibatasi seperlunya. Kecuali perpustakaan tersebut mempunyai lisensi untuk menggandakan itu sah-sah saja. “Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu”.
            Tidak hanya perpustakaan, kita sering juga melihat orang-orang memfotocopy buku atau tulisan karya orang lain. Bahkan saya sendiri pun pernah, akan tetapi saya sering diingatkan oleh Bapak atau Ibu Pengajar untuk jangan terlalu sering memfotocopy kalau masih mampu untuk membelinya. Bahkan ada yang bilang dengan humornya “nanti penulis mau makan apa?? wong kamu fotocopy teros, kasihan nanti mereka gak makan”. Oleh karena itu jangan terlalu sering memfotocopy kalau kita mmasih mampu membeli. Jangan sampai kita melanggar hak cipta seseorang, karena mereka juga punya hak yaitu hak ekonomi dan hak moral. Terimakasih, semoga bermanfaat....


Sumber: http://www.apjii.or.id/v2/upload/Regulasi/UU_HC_19.pdf Di akses pada tanggal 26 April 2015, pukul 17.21 WIB.